Tampilkan postingan dengan label spare time. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spare time. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Januari 2011

THE BACHELOR

Recently, i have just discovered one new meaning about bachelor. Ok, actually it’s not really ‘new’ meaning from bachelor, but it’s just me who just already found out about it :P

Bachelor, actually, it’s not just the degree man achieved after graduating their formal education (usually 4 years college)-MerriamWebsterDict, but bachelor also has the meaning a person who can study by him/herself, independently. that was my lecturer's words. Besides, bachelor also has the meaning unmarried man (but i won’t talk about this topic now)

i have just blogwalking to my friend’s blog to another, and i found an awesome writing from my friend. He wrote a critical post about what we actually get from go to the college. His post titled 'Why Go Through Academia?' succesfully blow my mind and made me think, what actually i get from college?


In his post, my friend wrote, what we learn now in the college will be out of date by the time we get the degree. knowledge is developing and increasing rapidly nowadays. So if people going to college to get the knowledge, it means they have paid for nothing in the future because their skill won’t be useful anymore! So what actually the reason that makes people going to college? I’m pretty sure a lot of people will answer, they want the degree or the status.

In college life, we face bittersweet moments. People said that campus life is the semi-real life. After we graduate from college, we will face more hectic life, more competitive life, more knowledge about life that we will get and so on. So college basically is a preparation camp for people and make them ready to face their life, independently.

So that’s the point, after studying for 4 years at college, and tasted a lof of bittersweet moments, people will get the bachelor degree, the confession from education institution that a person can study by him/herself, independently.

There’s actually a definition about bachelor, in my opinion.
The fact above, also makes me think about people out there that with their own constraint, can’t made it into college. Sometimes i met many skillful beggar, in kober, in the train, in the train station, in the public transportation, or even in front of my home, they not just only singing as they want with whatever voice they can make, but they also play instrumental music, like violin, trompet, saxophone, or guitar. and they are brilliant in making good music!

I’m just guessing (and i’m sure it’s near to the truth), that they don’t get formal class to learn about playing instrument, and i’m pretty sure they not attend music courses because it’s so expensive that they can’t afford. So they must be learn about it by themselves, independently.

I have a neighbour, Her nama is Mrs. Yanuar, every people at my neigbourhood know that she have a brilliant and crazy awesome skill in cooking, every people know that Mrs Yanuar is identic with delicious and interesting foods and beverages, and the fact that she never get the formal education to have her ability also makes me think..
In this world, there are a lot of bachelor, the bachelor that really finish his/her 4 years college in formal education institution, and the bachelor who succesfully found out what skill they have and develop it. So to become a bachelor, people not always have to study in formal institution, but just give your commitmen, willingness, and spirit if you want to study and have ability about something.

Rabu, 24 Juni 2009

MACARONI SCHOTEL

ada sedikit hal yang beda dari liburan kali ini. kalau biasanya liburan-liburan kemarin aku isi dengan jalan-jalan sama teman-teman, nonton, pergi ke luar kota, dsb. sekarang ada hal baru yang kurasa cukup efektif dan produktif untuk mengisi waktu luang: belajar masak! hehe.

bukannya aku nggak bisa masak, bisa kok, tapi emang masih terbatas di masakan-masakan Indonesia aja. makanya ketika sohibku, Dina, menawarkan ngajarin aku masak macaroni schotel, yang notabene masakan eropa itu, aku langsung mengiyakan. jadilah kemarin pagi, di dapur rumahku, kita mulai bereksperimen.

setelah dicoba, ternyata masak macaroni schotel itu gampang banget! serius, bukannya sok jago nih, tapi pada kenyataannya memang nggak diperlukan skill tertentu buat memasak masakan ini. asal udah biasa di dapur aja.

bahan-bahannya juga nggak terlalu susah, seperti: macaroni, keju, susu, telur, daging giling (atau bisa juga diganti kornet). bumbunya juga cuma bawang putih, bawang bombay, garam dan lada.

untuk ukuran pemula, macaroni schotel buatan aku, fatma, dan dina kemaren itu bisa dibilang cukup sukses lah. rasanya bisa dibilang enak. well, thanks a lot dina :)

kayaknya belajar memasak waktu liburan benar-benar ide yang bagus. pertemuan selanjutnya, dina mau belajar masak cap cay (tapi sekarang aku yang jadi gurunya), hahha. jadi terinspirasi mau jadi koki. :P




Senin, 04 Mei 2009

homoseksual?

hari ini tadinya gue kira bisa jadi hari yang menyenangkan, emang menyenangkan sih pada awalnya. hari ini gue sama acid (temen sebangku gue) jalan-jalan keliling UI, kita ke fakultas impian masing-masing. acid pengen ke fakultas ilmu budaya (FIB) karena katanya dia mau masuk sastra jepang, sementara gue minat banget jalan-jalan ke fakultas psikologi.

gue pernah baca di the secret, buku karangan rhonda byrne, tau gak? pokoknya itu buku berisi motivasi-motivasi gitu deh yang nyemangatin kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan di hidup ini. dan kata the secret, kalau kita ingin mendapatkan sesuatu, jadilah benar-benar menginginkannya, dan rasakan kebahagiaan seolah-olah kita sudah mendapatkan apa yang kita mau. ngerti nggak?

atas dasar itu, hari ini gue dan acid jalan-jalan ke UI, toh tidak dipungut biaya dan bebas untuk umum, hehhe. lagipula gue sama acid kand pake baju bebas jadi gak ketahuan kalau kita masih SMA. setelah puas ngiter-ngiter UI, kita sempet mampir ke margo city sebentar untuk sholat, makan, curhat-curhatan, dsb.

tapi,
bukan itu inti yang mau gue certain di posting kali ini. tadi itu baru prolognya.

waktu kita mau pulang, kita berhasil dapet angkot D110 di daerah fly over. angkot itu udah dalam kondisi hampir penuh, gue sama acid dapet duduk di pojok barisan belakang supir. tadinya gue kira semua oke oke aja, gue sama acid ngelanjutin ngobrol sepanjang perjalanan.

tapi lama-kelamaan gue mulai menyadari suatu hal yang aneh,
di kursi depan kita berdua duduk dua orang cowok gitu, mereka terus-terusan ngeliatin gue sama acid. serem nggak tuh? trus kalo gue sama acid ketawa, si cowok di depan acid (selanjutnya disingkat CDA) bisik-bisik ke cowok di depan gue (selanjutnya disingkat CDG) dengan bahasa planet gitu, trus mereka berdua ikut ketawa juga. serius nih. nggak lebai kalau gue bilang mereka ngomongnya pake bahasa planet, emang nggak jelas sih mereka itu ngomong pake bahasa apa. bahasa Indonesia bukan, bahasa daerah juga bukan deh kayaknya.

keanehannya nggak berhenti sampai disitu,
sepanjang jalan, si CDG seriiiiing banget meluk-meluk CDA, kadang-kadang ngerangkul, bisik-bisik sok mesra gitu, bahkan kadang-kadang nyium-nyium leher si CDA. oh my God, ya Allah gue geli banget. oke, sampai disitu gue udah 100% sadar kalau mereka itu pasangan homoseksual, tapi gue masih 100% shock juga. baru kali itu gue liat ada pasangan homoseks beraksi di depan gue secara langsung, paling jaraknya kurang dari setengah meter.

di jalan gue udah mau ketawa, gimana ya? gue tau itu jahat banget. gue tidak menyalahkan mereka karena mereka homoseks, gue nggak kesel atau marah sama mereka juga koq. tapi gue heran, kenapa mereka mesra-mesraan gitu di depan umum sih? itu kand hal nggak lazim.

gue nggak tahu, acid sadar juga akan hal ini atau nggak. soalnya sepanjang jalan dia keliatannya tetap tenang dan stay cool aja. masih nerusin ngobrol dan ketawa-ketawa gitu sama gue. rasanya pengen banget gue ngambil handphone gue dari tas dan ngasih tau fakta yang sedang terjadi di depan mata kita sama acid, cuma gue mengurungkan niat.

akhirnya gue sampai di tempat tujuan,
pasangan homoseks itu masih terus ngeliatin kita. waktu udah turun dari angkot, gue sama acid diem dulu sejenak, hening. akhirnya gue beraniin tanya ke acid, “cid, tadi lo nyadar nggak sih yang di angkot?”

dengan segera acid jawab, “iya, hahaha”. gue sama acid langsung ketawa ngakak bareng-bareng, sebenernya kata acid dia juga udah nyadar dari tadi dan pengen ketawa dari tadi, tapi ditahan-tahan kayak gue. hahaha.

kesimpulannya, gue heran deh, homoseks itu sebenernya penyakit psikologis bukan sih? kalau nggak, kenapa ya masih ada aja cowok hari gini yang homoseks? buat contoh aja, cowok di angkot yang homoseks tadi tampangnya lumayan kok, nggak jelek-jelek amat. padahal hari gini kand jumlah cewek 4 kali lipat lebih banyak daripada cowok, mereka nggak akan kekurangan cewek kok, pasti mereka bisa dapet cewek kalau mereka usaha. ckck. aneh banget hari ini.

Kamis, 23 April 2009

gue, fatma, dan 100% senorita (twins)


liburan seminggu UAN kali ini banyak gue manfaatin di rumah. sementara bapak dan ibu bekerja serta kakak gue lagi ikut UAN, gue sama fatma (kembaran gue) banyak menghabiskan waktu dengan nonton sebuah serial drama asal taiwan via you tube, judulnya 100% senorita (twins).

serial ini dulu pernah disiarkan secara bersambung di SCTV waktu gue masih kelas 6 SD. asli, ini serial tuh oke banget. seru, kocak, mengharukan dan sangat drama banget. 100% senorita termasuk ke dalam jajaran sedikit banget drama favorit gue, yang selalu gue inget dan kayaknya nggak akan pernah bosen gue tonton. kayaknya fatma juga deh.

drama ini menceritakan tentang sepasang saudara kembar yang terpisah. Zhuang Fei Yang dan Liang Xiao Feng. Fei Yang menjadi anak angkat seorang pengusaha milyarder kaya raya di Taiwan, hidup berkecukupan dan bergelimang harta, sangat dihormati, berpendidikan tinggi, dan sekilas hidupnya terlihat sangat sempurna. sementara adik kembarnya, Xiao Feng, yang tinggal bersama ibunya hidup dengan miskin dan melarat, punya pekerjaan yang sangat tidak dihormati, bahkan sejak usia belia ia harus membanting tulang demi membantu ekonomi keluarganya. mereka berdua saling tidak mengetahui keberadaan yang lain, dan suatu hari, karena sebuah kecelakaan, mereka berdua harus bertukar posisi dan hidup mereka berubah 180 derajat. pokoknya ini serial gue rekomendasikan banget buat ditonton deh :)

kalau liat serial ini, sedikit banyak gue jadi inget sama kehidupan gue sendiri. yaa, walaupun kehidupan gue gak setragis dan penuh warna kayak kisahnya Fei Yang dan Xiao Feng sih. gue sama fatma, seperti layaknya Fei Yang dan Xiao Feng, kita kembar tapi secara kepribadian kita beda banget! banyak banget orang yang sepakat sama hal ini. walaupun mungkin secara fisik atau suara kita persis banget.

fatma, dia orangnya selalu ceria, pintar, enerjik, organisatoris, pintar membagi waktu, berprestasi, dsb. tapi kalo kata kata temen-temen, gue itu lebih kalem dan dieman, suka jutek juga (hahaha, maaf ya). gue sendiri juga sebenernya nggak tahu, apa ya penyebab sepasang kembar punya sifat yang berbeda-beda?

tapi, gue sangat bersyukur alhamdulillah dikaruniai saudara kembar sama Allah. yaa, walaupun kadang nyebelin juga kalo terkadang apa-apa harus dibagi dua, ada yang salah manggillah, kembaran gue lebih sukseslah, dan sebagainya. mungkin ini agak lebai, tapi gue rasa gue beruntung punya saudara kembar karena dia itu udah kayak belahan jiwa gue, copy-an gue, and the most important is dia bisa jadi orang kepercayaan gue. fatma, adalah orang yang paling gue percaya di dunia ini, semua rahasia gue kayaknya dia udah tau deh, dan gue rasa dia orang yang paling mengenal gue.

saat gue lagi jatuh dan gue rasa semua temen-temen gue nggak ada yang bisa menolong, fatma pasti selalu ada. saat gue ragu dan gue nggak tahu mau kemana harus bertanya, fatma pasti selalu ngebantu gue. saat gue punya salah dan males mengakuinya, bilang aja ke orang-orang kalau yang berbuat itu fatma. hahaha.

di serial 100% senorita (twins) ini, ada bagian dimana Fei Yang dan Xiao Feng harus bertukar kehidupan. sebagai sepasang saudara kembar, gue sama fatma juga punya pengalaman-pengalaman unik kayak gitu.

dulu waktu SMP, fatma jadi ketua OSIS di sekolah, banyak banget yang harus dia kerjain. di sisi lain, tahun itu dia juga jadi pelajar teladan kota depok, dan sering dikirim ke luar kota buat karantina lomba-lomba. walhasil, dulu sering banget kerjaannya fatma sebagai ketua OSIS gue yang ngehandle (padahal gue bukan anak OSIS), mimpin rapatlah, kasih sambutan-sambutan kalau ada acara sekolah, bahkan tanda tangan surat-surat atau proposal kegiatan. dan semua orang menganggap gue itu fatma!

waktu SMP dulu gue juga pernah punya pacar. suatu hari, pacar gue itu telpon ke rumah, pengen ngobrol-ngobrol, tapi hari itu entah kenapa gue males banget terima telepon, jadilah gue suruh fatma buat angkat telepon dan pura-pura jadi gue. dan guess what? pacar gue itu nggak sadar kalau sebenarnya dia lagi ngomong sama fatma, bukan sama gue, mana lama banget lagi telpon-telponannya. huh. hahha.

dalam cerita Fei Yang dan Xiao Feng, mereka berdua sebenarnya kembar yang sangat oke. mereka berdua rela membagi segalanya dengan yang lain, harta dan materi, orangtua, teman-teman, jabatan, dan segalanya. tetapi tidak dengan satu hal: cinta. Fei Yang dan Xiao Feng pernah berantem hebat di kisah ini karena mereka mencintai seseorang yang sama. tragis ya?

kalau boleh jujur, sebenernya sepasang kembar yang menyukai orang yang sama itu cerita klise loh. banyak banget pasangan kembar yang mengalami hal ini. gue sama fatma juga pernah ngalamin hal kayak gini, hahaha. tapi itu dulu, sekarang sih karena gue dan fatma punya kehidupan dan pergaulan sendiri-sendiri, kejadian tragis kayak gitu sih insya Allah nggak bakal kejadian lagi. :p