Minggu, 13 Mei 2012

Untuk Kamu Yang Galau


“Unrequited Love, atau cinta yang tak berbalas, adalah hal yang paling bisa bikin kita ngais tanah. Untuk tahu kalau cinta tak berbalas, rasanya seperti diingatkan bahwa kita tidak pantas untuk mendapatkan orang tersebut. Rasanya, seperti diingatkan bahwa kita, memang tidak sempurna, atau setidaknya tidak cukup sempurna untuk orang tersebut.” (Raditya Dika)

                Penggalan kalimat diatas saya temukan pagi ini di display picture BlackBerry Messenger milik seorang teman. Si teman, laki-laki sebaya yang bisa dibilang cukup sukses di usianya dan memiliki segalanya, rupanya juga terjangkit virus penyakit galau. Penyakit yang tampaknya sudah menjadi fenomena bagi anak muda dan bukan lagi hal yang tabu.

                Bicara tentang galau, saya sendiri lupa kapan kata tersebut mulai populer dan familiar. Sepertinya sekitar tahun lalu kata ini mulai sering digunakan jadi kosakata sehari-hari anak-anak muda Jabodetabek. Galau identik dengan suasana hati yang gundah gulana, tak menentu, cenderung jauh dari kebahagiaan. Galau pun sudah mengalami perluasan makna, bukan cuma galau kehidupan romansa, tapi juga galau akademik, galau prestasi, dan lain-lain.

                Galau kehidupan asmara, topik ini biasanya yang paling menarik kehidupan anak muda. Topiknya bisa beragam, mulai dari naksir tapi bertepuk sebelah tangan, masih terbayang si mantan kekasih, godaan untuk selingkuh, dan yang lumayan rentan untuk memicu galau adalah tidak punya pasangan alias jomblo. So, terinspirasi dari dp BBM teman saya tadi pagi, muncullah pikiran-pikiran random saya, apa sih penyebab galau? Bagaimana mengatasi galau?

                Saya mungkin belum berpengalaman dalam hal relasi, tapi satu hal yang pasti saya tahu, syarat membangun hubungan relasi yang baik adalah kepantasan. Harus suitable for each other.  Setuju banget sama ide Raditya Dika yang jadi paragraf pembuka di tulisan kali ini, ketika kita menyukai seseorang, kita cenderung memuja orang tersebut. Dia jadi terkesan begitu indah, begitu sulit digapai, begitu sempurna, sementara kita hanya seperti ini dengan kekurangan disana-sini.

                Daripada meratapi nasib cinta yang bertepuk sebelah tangan, lebih baik mari kita memantaskan diri agar suitable dengan orang yang disukai. Saya ingat beberapa pasangan yang bahagia dan membuat orang-orang iri dengan kepantasannya. Di kampus ada senior saya yang sama-sama oke, mereka berdua sama-sama pintar, berprestasi, namun low profile. Hubungan mereka sudah berjalan dua tahun lamanya, dan tampaknya keduanya sama-sama bangga satu sama lain, dan sama-sama bahagia. Ada juga teman pasangan di Fakultas Kedokteran, laki-lakinya juara satu seangkatan, sementara perempuannya persis di peringkat kedua. Wah, sama-sama keren, kan?

                Pentingnya kata sama-sama itu, karena itu tadi, harus suitable for each other agar sama-sama bahagia. Jadi, mari memperbaiki dan mengembangkan diri agar sama dengan orang yang disukai. Kalau kita menyukai seseorang dengan tulus, pasti kita ingin agar si dia bersama dengan yang pantas dengannya bukan? Bahagia sekali jika orang tersebut adalah kita :) Tenang saja, laki-laki baik untuk perempuan baik, vice versa. Buruk-buruknya, kalau sudah berusaha menjadi lebih baik tapi masih belum dapat, orang lain yang terbaik dan yang terpantas pasti akan datang mengganti. Masih tidak percaya? Buktikan saja!

                Ada lagi kasus asmara yang memicu kegalauan, seperti yang dialami teman saya, sebut saja M. M adalah wanita cantik, baik hati, dan punya kehidupan yang sempurna. Tidak berlebihan rasanya kalau saya bilang M ini tipikal wanita idaman pria. Banyak sekali laki-laki yang mendekatinya, namun belakangan ini si M cenderung membatasi karena sedang dekat dengan seorang laki-laki muda mapan yang luckily bisa mencuri hati si M. Hubungan mereka berjalan baik, lancar, dibumbui romansa-romansa yang membuat iri saya yang kerap kali menjadi penyimak cerita mereka, tetapi yang agak mengecewakan disini, hubungan mereka ternyata belum ada status apa-apa. Padahal, menurut saya mereka sudah memenuhi syarat menjalin relasi yang bahagia, suitable for each other tadi. Kalau dalam love trilogy theory, hubungan mereka ini masih digolongkan ke dalam romantic love saja.

                Si pria mengatakan sudah selesai masa pendekatan namun belum menentukan momen yang tepat untuk meresmikan, padahal kedekatan mereka sudah berlangsung cukup lama. Si pria mengatakan, tidak memiliki target untuk punya status apa-apa, selama mereka sama-sama bahagia.

                Yap, that’s the point! Harus sama-sama bahagia, being happy together. Dalam kasus M diatas, jujur saja saya agak ragu keduanya sama-sama bahagia. Mungkin pria cenderung takut komitmen, sebaliknya perempuan cenderung butuh kepastian. Yang saya tahu, rasa galau bisa timbul di hati yang merasa tidak pasti, dalam kasus ini si M, kalau bahasa anak mudanya, digantung.

                Menggantung hati, sama saja dengan menggantung orangnya secara langsung, merupakan sebuah bentuk kejahatan (setidaknya menurut saya). Jadi, jika sedang berada dalam hubungan seperti ini, pastikan untuk being happy together, bahagia bersama. Walaupun tanpa status apapun, selama sama-sama bahagia kegalauan bisa diminimalisir.

                Bagi mereka yang belum memiliki pasangan, tidak perlu galau juga. Mungkin hanya masalah waktu saja, seperti kata Michael Buble dalam salah satu lagunya, Haven’t Met You Yet. Selain itu, berbahagialah untuk yang belum punya pasangan, ambil saja sisi positifnya, kita bisa lebih bebas, secara waktu dan pemikiran. Bisa benar-benar menikmati hidup, mengambil keputusan sendiri, tidak perlu khawatir memikirkan perasaan orang lain, dan bisa berteman dengan siapa saja. Meskipun, saya mengakui, seorang yang belum punya pasangan pun suatu hari nanti harus memiliki seseorang, yang bisa merubah hidupnya menjadi lebih baik, yang bisa menjadi teman terdekat untuk berbagi dalam kehidupan.

                Pada dasarnya, saya termasuk orang yang percaya terhadap kekuatan cinta. Saya meyakini pemikiran bahwa kita memerlukan orang-orang yang mencintai kita, diluar kewajiban kita untuk mencintai orang lain. Selain itu, jika kita hidup dikelilingi cinta, hidup akan terasa lebih indah dan lebih semangat, meski dalam waktu yang sulit, cinta dari orang-orang terdekatlah yang akan menguatkan kita.

                Meski begitu, tenang saja bagi mereka yang belum menemukan cintanya. Jodoh memang misteri dari Tuhan, jodoh bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dengan cara yang tak diduga. Sekali lagi, ini hanya masalah waktu, percantiklah diri kita sebaik mungkin, sembari menunggu yang terbaik akan datang :)

                Anyway, saya jadi teringat ucapan seorang teman. “Cinta itu ibarat ranking satu, sama-sama butuh perjuangan keras untuk mendapatkannya.” Lucu memang, tapi bisa jadi ada benarnya.


                Jenis galau terakhir yang akan saya angkat disini adalah galau cinta dua hati, biasanya dialami oleh orang-orang yang pasarannya terlalu tinggi, atau punya tingkat pesona diatas kadar orang-orang pada umumnya. Orang-orang dalam kategori ini patut bersyukur, meskipun galau menentukan, tapi mereka masih memiliki kesempatan untuk memilih. Jujur saja galau jenis ini membuat saya geleng-geleng kepala.

Saya punya sahabat akrab, sebut saja si L, L ini sudah menjalin hubungan dengan pacarnya selama empat tahun. Selama waktu tersebut, sudah banyak kumbang-kumbang yang datang mengganggu, karena terlalu cantik sahabat saya ini saya pikir.

Si L ini dalam perjalanan hubungannya dengan pacarnya sering sekali mengalami kebimbangan, karena ada orang lain yang dianggap lebih baik. Padahal, sebagai teman, secara objektif, saya pikir pacar si L ini sudah baik, sangat sabar dan setia. Apalagi yang ingin dicari? Mungkin saya tidak merasakan sendiri, saya juga tidak ingin menghakimi. Namun, alangkah bahagianya apabila kita bisa menetapkan hati, menetapkan pilihan. Bahagia bersama orang yang dikasihi dan mengasihi kita, dan tidak menduakan.

                Saya teringat obrolan saya dengan Mbak Fitri Fauziah, beliau seorang psikolog di Fakultas Psikologi UI. Dari beliau, saya tahu kalau galau itu ternyata termasuk gangguan kejiwaan ringan. Tapi jangan panik, secara ilmiah, gangguan kejiwaan ringan seperti ini memang pasti pernah dialami setiap orang, termasuk saya tentunya.

                Oke, jadi termasuk galau yang mana anda? Galau apapun itu, cinta, akademis, prestasi, itu semua hanya masalah waktu dan usaha. Tetaplah berbahagia dan berusaha, kebahagiaan itu akan datang kalau kita sudah memberikan yang terbaik. Salam beauty dan salam happy!

Tidak ada komentar: